Hari Kebangkitan Nasional :Rupiah Jatuh, Nurani Bangsa Goyah
News1.id.com- Hari Kebangkitan Nasional datang seperti tamu lama yang mengetuk pintu ingatan bangsa. Ia membawa kisah tentang keberanian, tentang darah dan air mata para pendahulu yang pernah bermimpi melihat negeri ini berdiri tegak di atas martabatnya sendiri. Namun hari ini, di bawah langit Indonesia yang penuh pidato dan perayaan, ada suara lirih yang tumbuh dari dada rakyat: apakah bangsa ini sungguh sedang bangkit, atau hanya sedang belajar tersenyum di atas luka-lukanya?
Rupiah yang melemah bukan hanya angka yang jatuh di layar pasar dan berita ekonomi. Ia adalah kegelisahan yang masuk ke dapur-dapur rakyat kecil. Ia adalah napas berat seorang ayah yang pulang dengan penghasilan yang tak lagi mampu mengejar harga kebutuhan. Ia adalah mata seorang ibu yang diam-diam menghitung uang belanja sambil menelan cemas. Dan ia adalah kegundahan anak-anak muda yang mulai takut bermimpi terlalu tinggi, sebab hidup terasa semakin mahal bahkan sebelum mereka sempat berjalan jauh. Ketika mata uang jatuh, yang sebenarnya sedang diuji bukan hanya ekonomi negara, tetapi harga diri sebuah bangsa.
Negeri ini sesungguhnya kaya. Tanahnya subur, lautnya luas, dan manusia-manusianya dianugerahi akal yang cemerlang. Tetapi mengapa di tengah segala kekayaan itu, rakyat masih akrab dengan ketakutan akan hari esok? Mungkin karena bangsa ini terlalu sibuk membangun menara-menara kekuasaan, hingga lupa membangun kejujuran di dalam jiwa manusianya. Kita meninggikan gedung, tetapi merendahkan nurani. Kita berbicara tentang cinta tanah air, tetapi membiarkan ketidakadilan tumbuh seperti akar liar di halaman rumah sendiri. Sebab negeri yang kehilangan keadilan akan perlahan berubah menjadi tanah air yang asing bagi rakyatnya sendiri.
Dulu penjajahan datang membawa rantai dan senjata. Hari ini penjajahan hadir lebih halus dan lebih sunyi. Ia masuk melalui ketergantungan ekonomi, melalui kerakusan yang dibungkus kemajuan, melalui kebisingan yang membuat manusia lupa cara merenung. Orang-orang berbicara tanpa henti, tetapi sedikit yang benar-benar mendengar. Manusia semakin dekat lewat teknologi, tetapi hati mereka semakin jauh satu sama lain. Dan di tengah hiruk-pikuk itu, kebenaran sering tenggelam oleh tepuk tangan dan kepentingan. Bangsa yang kehilangan kemampuan berpikir jernih akan mudah dipimpin menuju kehancurannya sendiri.
Generasi muda Indonesia hari ini tidak kekurangan ilmu. Mereka tumbuh di zaman ketika dunia dapat disentuh dari genggaman tangan. Namun yang mulai hilang adalah keteladanan. Mereka melihat terlalu banyak kata-kata indah yang tidak sejalan dengan tindakan. Mereka mendengar janji tentang masa depan, tetapi menyaksikan kenyataan bahwa banyak orang kecil tetap berjuang sendirian. Maka sebagian dari mereka mulai kehilangan keyakinan, seolah negeri ini sedang berjalan tanpa arah, dipimpin oleh cahaya yang redup. Dan ketika generasi muda mulai kehilangan harapan, sesungguhnya sebuah bangsa sedang berdiri di tepi jurang yang paling sunyi.
Padahal sebuah bangsa tidak hancur ketika mata uangnya melemah. Bangsa hancur ketika hati manusianya kehilangan keberanian untuk mencintai kebenaran. Ketika orang-orang pintar memilih diam demi kenyamanan. Ketika pendidikan hanya melahirkan pemburu gelar, bukan pencari hikmah. Ketika agama tinggal suara di mimbar, tetapi gagal hidup dalam perilaku sehari-hari. Dalam keadaan seperti itu, Hari Kebangkitan Nasional hanya menjadi gema yang indah di telinga, tetapi asing di kehidupan nyata. Sebab kehancuran bangsa selalu dimulai ketika nurani manusia berhenti merasa bersalah atas kebohongan yang dipeliharanya sendiri.
Namun saya percaya, Indonesia belum benar-benar kehilangan cahaya. Sebab di negeri ini masih ada guru yang mengajar dengan kasih meski hidup sederhana. Masih ada petani yang menanam dengan doa, nelayan yang melaut dengan harapan, dan anak-anak muda yang diam-diam membangun kebaikan tanpa meminta pujian. Harapan bangsa ini sering lahir bukan dari istana yang megah, tetapi dari hati manusia kecil yang tetap menjaga kejujuran di tengah gelapnya zaman.
Maka kebangkitan sejati bukanlah tentang megahnya upacara atau lantangnya pidato. Kebangkitan adalah ketika manusia masih mampu menjaga nuraninya tetap hidup. Sebab bangsa tidak mati ketika rupiahnya jatuh. Bangsa mati ketika rakyatnya berhenti peduli, berhenti berharap, dan berhenti percaya bahwa dari luka-luka ini, cahaya masih bisa dilahirkan kembali. Dan sejarah selalu membuktikan: bangsa yang kehilangan nurani akan runtuh, bahkan sebelum musuhnya datang menghancurkan.(***)



Komentar